Thursday, August 11, 2005

Buku untuk Guru : Sarana Peningkatan Kualitas Pendidikan

Buku untuk Guru
Sarana Peningkatan Kualitas Pendidikan


Sebagai pelaksana di lapangan, guru sebenarnya memiliki peran yang sangat strategis dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan yang sering dikaitkan dengan dunia pendidikan. Namun, banyak kalangan memilih menyelesaikan persoalan tersebut secara formal.

Mereka lebih memilih memasukkan materi-materi yang dianggap dapat menyelesaikan persoalan kebangsaan ke dalam kurikulum pendidikan. Karena itu, ketika bangsa ini dihebohkan dengan isu pelanggaran hak asasi manusia alias HAM, banyak yang mengusulkan agar pendidikan HAM masuk sekolah.

Demikian juga dengan pendidikan agama, pendidikan budi pekerti, pendidikan seks, pendidikan multikultural, sampai pendidikan antikorupsi.

Walhasil, bukannya materi-materi tersebut yang dapat dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, melainkan perbedaan pendapat yang tiada kunjung henti. Misalnya saja kasus Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 yang menyulut kontroversi tentang pendidikan agama dan budi pekerti, atau pro-kontra tentang pendidikan seks yang belum mendapatkan titik temu.

Demikian juga dengan pendidikan HAM dan pendidikan multikultural yang tidak mendapatkan apresiasi yang semestinya, apalagi pendidikan antikorupsi.

Karena itu, paradigma yang berorientasi materi seperti itu harus diubah. Yang perlu diperhatikan adalah optimalisasi peran guru dalam proses belajar-mengajar di kelas.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang sedang dirintis oleh Depdiknas sekarang ini mungkin bisa dianggap sebagai salah satu solusi yang cukup cerdas. Sebab, KBK menuntut guru agar dapat mengelola proses belajar dengan lebih kreatif, dinamis, dan progresif. Hanya saja, hal ini membutuhkan kompetensi guru yang sangat mendasar. Salah satunya adalah kompetensi intelektual.

Dengan kompetensi ini guru diharapkan memiliki keluasan wawasan sehingga dapat mengikuti perkembangan wacana kependidikan yang sedang menjadi tren dan dapat mengelola kelas dengan metode yang selalu segar. Apa pun wacana baru yang sedang menjadi tren dalam diskursus global, dapat dijadikan sebagai sumber belajar yang efektif oleh guru.

Namun, kita (baca: guru) memang perlu introspeksi. Guru selama ini menjadi sorotan yang sangat tajam dan dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab bagi kegagalan berbagai program pendidikan yang sebenarnya cukup bagus. Berbagai program tersebut tidak dapat diimplementasikan secara baik di lapangan.

Faktor penyebab

Banyak faktor yang menyebabkan munculnya persoalan ini. Salah satunya adalah rendahnya kapasitas intelektual guru. Hal ini disebabkan oleh kesulitan guru mengakses informasi tentang wacana pendidikan terbaru yang melatarbelakangi perubahan kebijakan dan program pendidikan.

Permasalahannya adalah tidak adanya media yang dapat digunakan guru untuk memperkaya diri dengan wacana dan diskursus pendidikan kontemporer.

Pengetahuan guru sangat terbatas dan ala kadarnya. Akibatnya, apa yang dilakukan guru menjadi out of date dan monoton. Paling banter guru hanya mengetahui wacana-wacana tersebut dari penataran yang diadakan oleh pemerintah yang efektivitasnya sangat diragukan.

Dengan demikian, tampaknya perlu dikembangkan sebuah program yang dapat meningkatkan intelektualitas guru. Sebut saja misalnya program ”Buku untuk Guru”.

Program semacam ini sangat penting mengingat percepatan perkembangan dunia kependidikan beberapa waktu terakhir ini tidak bisa dilepaskan dari dunia buku. Penerbit-penerbit baru dengan visi yang sangat beragam tumbuh dan berkembang di kota-kota besar dalam menawarkan buku-buku yang sangat beragam. Namun sayang, guru masih belum akrab dan bersahabat dengan buku. Akibatnya ada semacam kesenjangan yang sangat dalam antara perkembangan pemikiran yang begitu cepat dengan praktik pembelajaran yang dikembangkan oleh guru.

Implementasi

Program ”Buku untuk Guru” ini bisa diimplementasikan dengan beberapa agenda kerja berikut. Pertama, pemberian subsidi buku untuk guru. Ini bisa jadi program yang sangat konservatif, tetapi tidak ada salahnya untuk diterapkan. Sebab, selama ini belum ada bantuan finansial bagi guru yang dikhususkan untuk konsumsi buku.

Program ini bisa berjalan efektif dengan pengawasan yang terkoordinasi sehingga guru betul-betul menggunakan dana subsidi tersebut untuk pembelian buku. Dengan program ini setiap guru akan memiliki perpustakaan pribadi yang sangat bermanfaat bagi profesionalisme kerja seorang guru.

Kedua, mengefektifkan perpustakaan sekolah. Ini adalah wacana klasik. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi perpustakaan sekolah sangat memprihatinkan. Sebagian besar koleksi buku hanyalah buku-buku paket mata pelajaran. Buku-buku terbitan terbaru dengan wacana baru sangat terbatas (untuk tidak mengatakan tidak ada).

Karenanya perlu adanya kebijakan strategis yang bersifat mengikat agar semua sekolah memiliki perpustakaan sekolah yang memadai. Tidak seperti selama ini, di mana pentingnya perpustakaan hanya diwacanakan dan dianjurkan saja.

Ketiga, Depdiknas atau departemen lain yang terkait membangun kerja sama dengan penerbit agar dapat menyediakan buku yang murah dan mudah diakses oleh guru. Karena itu perlu dirumuskan jalur distribusi khusus agar buku dapat diakses dengan mudah dan murah sampai di daerah terpencil sekalipun. Dengan demikian guru dapat memperoleh informasi buku terbaru dan memiliki kemampuan untuk membeli serta mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya.

Dengan program semacam ini, guru dapat mengikuti perkembangan dunia pendidikan secara cermat. Hal ini tentunya akan berpengaruh positif pada kualitas guru yang bersangkutan. Guru akan selalu mendapatkan hal baru dan melakukan hal yang baru pula.

Dengan demikian, guru akan tahu dengan sendirinya apa itu HAM, pendidikan seks, pendidikan budi pekerti, pendidikan multikultural, dan pendidikan antikorupsi. Tanpa harus menunggu perubahan dalam kurikulum ataupun penataran-penataran, guru sudah dapat mengimplementasikan wacana-wacana tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Kualitas pendidikan pasti akan lebih baik.

Bagus Mustakim, Guru Madrasah Aliah Negeri Ngrambe, Ngawi

0 Comments:

Post a Comment

<< Home